Tunjung Tutur

Tentara Juga Manusia | 27 September 2009

Jika dulu bambu runcing, sekarang adalah kapal perang usang, namun sungguh.. image yang tercipta sangatlah berbeda. Kesan tentara jaman dulu adalah pejuang dan pahlawan bangsa, namun sekarang..

Masih dalam rangka sayembaranya Pakde Cholik, bukan hadiahnya, tapi saya sungguh terinspirasi untuk memahami dunia dan jati diri tentara. Saya dan mungkin sebagian masyarakat awam lainnya, mengenal tentara hanya sebagai tukang perang dan tukang backing saja.. Maka saya pun menelepon rekan saya yang sebelumya sudah saya email duluan mengenai maksud dan tujuan saya, Pratu Rahman yang bertugas di Kodam V Brawijaya..

Saya pun memulai pembicaraan:
“Mas ternyata ada juga tuh tentara yang suka corat- coret di internet alias bloging..

“Lha iya dong mas, sama saja dengan sampeyan, tentara itu kan juga punya hobby, minat dan kebiasaan. Yang pasti tentara juga manusia, mereka bukan robot perang belaka, namun bisa pula senang bisa sedih, perlu makan, dan yang pasti tetap terkait dengan benar dan salah. Sama seperti dulu, saya yakin dulu pun tetap ada pelanggaran- pelanggaran norma luhur, ada pula oknum seperti saat ini dan tukang backing tentunya..

Beberapa bulan yang lalu saya ditugaskan mengamankan unjuk rasa di Surabaya, disitu ada mahasiswa dan massa. Waktu itu barikade kami dilempar- lempar dengan tomat buruk, telor busuk.. bahkan rekan saya terpaksa dirawat karena kena lempar batu. Kami serba salah, kami adalah pagar pelindung rakyat dan negara. Jika kami balas pasti akan kena HAM, padahal kami juga manusia, butuh HAM juga. Dan mereka itu kan mahasiswa, seharusnya mereka lebih intelek dalam berfikir dan berperilaku..
Jadi saat ini yang terjadi adalah masalah krisis budi pekerti mas.. tidak tentara tidak rakyat bahkan anggota dewan yang terhormat dan ulama sekalipun..

Malam itu pun saya jadi “asbak”, tempat menaruh puntung- puntung curhat-nya.. kepulan asapnya sungguh menyesakkan dadaku..
Apa pendapatmu kawan?


9 Komentar »

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

    Komentar oleh alamendah — 27 September 2009 @ 01:58

    • ya… ya… tentara juga manusia.
      Selamat menikuti “Bukan Kontes”nya Pakde Kholik. Menang kalah beruntung atau nggak yang penting berpartisipasi dan menunjukkan kepedulian sama usaha bela negara.
      Maju perut pantat mundur!!!

      Komentar oleh alamendah — 27 September 2009 @ 02:01

      • wakakak… maju perut pantat mundur.. jadinya ya medeng-medeng..
        thanks komandan! salam pramukaaaaaaaaaaaaaaaa!

        Komentar oleh mas tyas — 27 September 2009 @ 02:17

  2. Jelaslah mas tentara juga manusia mereka juga butuh kasih sayang sama seperti halnya dengang kita tapi yang paling penting bagi mereka bagaimana caranya mengatur urusan pribadi dan negara.

    Komentar oleh Mr.o2n° — 27 September 2009 @ 12:57

  3. Bener juga yg dikatakan temen sampeyan itu, Mas… Bangsa ini memang sedang mengalami krisis moral dan etika…Krisis Budi Pekerti… Sungguh sangat disayangkan, karna krisis ini sudah menjamah di semua lapisan…
    Maju terus Mas.. Moga sukses yaaa….
    Salam hangat.. Salam damai selalu…

    Komentar oleh Hary4n4 — 27 September 2009 @ 14:46

  4. Hmmmm….
    Klo gt, jgn jd tentara aja dehh…
    Hahaha..😀
    ****
    Semoga sukses ya sob, kontesnya…🙂🙂

    Komentar oleh Irfan WOOQ.INFO — 27 September 2009 @ 19:36

    • makasih mang cek..
      jadi tentaro apo jadi wong ngarit samo bae cek.. yang penting pacaklah kito mengabdi untuk bangso..

      Komentar oleh mas tyas — 28 September 2009 @ 00:20

  5. jujur aku juga kacihan ama tentara yang kena dampak buruk, ketika mengamankan orang2 yang bersengketa. Tapi,…

    Tapi saya juga eneg dan gak nyaman, ketika ada tentara yang sok berkuasa, yang dengan dengan pangkatnya itu dia merendahkan bawahannya, atau orang yang dalam masalah, dia berlaku kasar, bahkan gak hanya adu mulut tapi juga adu otot.

    saya sendiri pernah ngalami, swaktu dsolo. ada seorang sersan satu, yg benar gak punya konsukensi, bagaimana tidak,. ketika kios photocopy yang saya tempati sudah tutup, karna emang dah malam yang kurang lebih jam 09.00pm, ada dua orang yang tiba2 masuk ke dalam kios, dan meminta tuk mengopy sesuatu, dan kitapun memohon maaf, bahwa kios dah tu2p, dan mesin photocopy pun dah dmatikan. Dan,…

    Dan eh malah tu orang memaksa, dan jika gak mau dia ngajak berantem, bahkan mengancam kalo benar gak mau mengopykan, dia bakal memporak porandakan, apa-apa yang ada dlm kioz itu. Bahkan dia gak hanya ngomonk, tp juga maìn tangan, dan satu teman saya kena gampar dia juga. Huuuh jadi bete aza kalo inget tentang itu.

    sekarang ini lagi kriziz budi pekerti, tapi kalo ada yang ngaku ulama, kok gak beda ama orang fasik. maka dia bukan ulama, bagaimana biza dikatakan ulama, sementara Nabi pun bersabda ;

    ”al ulama warisatul al anbiya ”
    ulama itu pewaris para nabi. Bagaimana biza ada seorang yang ngaku ulama, tapi dalam bersikap dan berucap, dia tidak menauladani sifat para nabi. tapi emank sekarang zaman yang aneh, kebo aza disebut kyiai,
    Walallahu ‘alam

    Komentar oleh ammar — 28 September 2009 @ 01:15

    • demikianlah realitas Jaman Edan..
      Salam Jaman Edan mas… yang penting kita perlu selalu mawas diri biar nggak ikutan edan!
      Trims, sayang selalu!
      tetap bela negara !

      Komentar oleh mas tyas — 28 September 2009 @ 02:08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: