Tunjung Tutur

Berfikir dengan Jiwa | 30 Juli 2009

Dunia telah semakin sempit kawan..
Oleh pergerakan nafsu, dan pergolakan perang jaman..
Dan kita tak lagi sempat bertemu,
dan bertatap hati dengan Jiwa..
`
Mungkin saja kita telah berjalan jauh,
Mengikuti arah nafsu berhembus..
Dan terhanyut dalam luapan keinginan,
dan hidup sebagai musafir..
`
dan ketika tiba seruan Tuhan..
tetap saja bukan hati yg menyapa..
hanya raga yang tampak khusuk bersujud..
Dan berzikir dengan hati kosong..
dan berdoa dalam kekeruhan hati..
dan dalam ketergesaan nafsu..
`
Kemana jiwamu kawan..
Deadline, study, target.. dan apalagi..
Hingga engkau tak sanggup lagi merenung..
merenung dan menatapi Jiwa yang telah Menghidupi..
`
Saatnya berfikir dengan Jiwa..
dan tetap membiarkan otakmu berkelana..
menyusuri belahan dunia manapun,
Sampai nanti ia tertidur dan terlelap dalam pelukan penat waktu..
`
Engkau masih terlalu bodoh kawan..
dan akan tetap menjadi bodoh..!
tak kan cukup kau agungkan sebongkah daging lunak yang terbungkus dalam tempurung itu..
untuk menelusuri setiap jengkal belahan bumi..
untuk menguasai segenap butiran pasir di mayapada ini..
Dan hanya Jiwa, jiwa dan jiwa..
Yang akan tetap terjaga ketika engkau tidur..
dan yang akan tetap Hidup ketika ragamu terbujur beku..
`
Berfikirlah dengan Jiwa..
maka engkau akan selalu merenung..
merenung dalam diam.. merenung dalam gerak.. bahkan merenung saat jasadmu tak lagi berguna..
`
dan Aku..
Aku akan selalu Ada dan bersama dalam hidupmu..
dan menghantarkanmu menelusuri setiap sudut bumi Ku.


5 Komentar »

  1. Jiwa yang berkelana tak tentu arah harus dikelola agar menuju ke Allah Swt.
    Jiwa yang kering tak mengerti arti seni,tak peduli arti sebuah persahabatan dan juga tak mengerti arti sebuah silaturahmi.
    Jiwa yang berkelana harus dikelola agar tak merusak raga, tak merusak budaya, tak merusak harmony dengan semesta.

    Salam harmony jiwa dari pakde di Surabaya.

    Komentar oleh Abdul Cholik — 30 Juli 2009 @ 23:05

    • Sepakat Pakde, salam harmoni🙂 Suwun.

      Komentar oleh Mas Tyas — 31 Juli 2009 @ 00:26

  2. berpikir dengan jiwa, jiwa yang [masih] sadar bahwa noda membuatnya kehilangan diri..

    Komentar oleh rigih — 3 Agustus 2009 @ 07:48

    • Jika hilang kekasih..
      Bisa kita cari gantinya..
      Namun jika yang hilang diri..
      Apa kata dunia…
      Thanks, salam sahabat.

      Komentar oleh Mas Tyas — 3 Agustus 2009 @ 08:04

  3. #mantap puisinya kawan, ijin share

    Komentar oleh Aruya — 2 Agustus 2013 @ 20:03


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: