Tunjung Tutur

Lestarikan Bahasa Daerah | 9 Juni 2009

Sangat bersyukur bagi saya sebagai orang Jawa yang tinggal di Sumatra karena dapat bergaul dengan suku- suku perantau lainnya dan masyarakat setempat untuk dapat saling bertukar pengalaman, bersahabat dan saling mengenali budaya masing- masing. Namun terdapat pula keprihatinan ketika budaya Jawa khususnya mulai terkikis oleh arus modernisasi yang dalam sisi lain justru menimbulkan ‘keterbelakangan’ terhadap kemajuan aspek budaya itu sendiri. Orang- orang Jawa tak lagi mampu berbicara bahasa Jawa secara baik dan benar. Anak- anak kecil pun telah mulai menggunakan bahasa Indonesia didalam percakapan sehari- hari di keluarganya. Bukannya tidak ‘menasional’ melainkan saya fikir bahasa merupakan salah satu aset budaya nasional yang sangat perlu untuk dilestarikan. Dan justru dengan meninggalkan bahasa daerah merupakan perilaku yang tidak ‘menasional’ yang merupakan salah satu ciri dari krisis nasionalisme dan cinta bangsa.
Dalam skala etnik orang jawa tak lagi menguasai aksara jawa, kidung, ura- ura dan asing dengan cerita wayang (termasuk saya :D) bahkan dalam tingkat selanjutnya beranggapan bahwa kebudayaan Jawa sudah tak lagi relevan dengan jaman. Dan dalam skala nasional beberapa orang mungkin sudah tidak lagi hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suatu hal sangat tidak saya harapkan bahwa kelak bangsa ini hanya akan menikmati kekayaan budaya bangsa di museum- museum kebudayaan atau di pertunjukan- pertunjukan yang telah dikemas rapi untuk dipertontonkan kepada bangsa lain.
Mari, kita bisa memulai cinta budaya dengan penggunaan bahasa daerah dalam keluarga.

πŸ™‚

membaca artikel berbahasa Jawa


Ditulis dalam Cerita Ringan
Tags:

9 Komentar »

  1. Saya sependapat mas,budaya dan bahasa Jawa jangan sampai punah.Jangan-jangan Mr.Burnaskopen malah lebih pinter bahasa Jawa daripada kita.Jangan-jangan meneer Lekdustalen juga pinter ndalang..he..he..he
    Jika dirantau, minimal orang serumah ngobrolnya pakai bahasa Jawa agar tetap terbiasa lidahnya.
    Salam

    Komentar oleh Abdul Cholik — 18 Juni 2009 @ 06:03

  2. Walah.. masih ingat pak dengan Mr. Burnaskopen dan Lekdustalen πŸ˜€ πŸ˜€ Hakikatnya boleh diajarkan pak, tapi sareatnya jauhkan dari anak cucu.. Bahaya.. πŸ˜€ πŸ˜€ Terimakasih pak sudah mengingatkan saya (terbahak- bahak.. )

    Komentar oleh Mas Tyas — 18 Juni 2009 @ 10:00

  3. wah hal ini jika di bahas secara detil, bisa rumit bro, Orang di zaman kini lebih aktif di bidang Teknolongi. sementara teknologi tidak mengenal Tradisi, bahkan stiap Orang Cenderung ingin lebih canggih, Seperti yg kita ketahui, Semua Teknologi sumbernya dari negeri luar, Dan kita butuh waktu untuk mempelajari, tanpa kita sadari, kita telah menjauh dari budaya sendiri,
    karna di buat mabok ama canggihnya duniawi, apalagi di dunia internet, rasanya kita pengen banget bisa menguasai bahasa English, nah dah tampak kan?

    Komentar oleh udienroy — 28 Juli 2009 @ 14:04

    • Benar mas Roy.. bahkan untuk menelusuri sudut bangsa sendiri kita perlu bertanya pada Mbah Google, ia telah berperan sebagai dewa segala tahu dan telah mengalahkan dewa- dewa dari bangsa timur.
      Ironis memang.. bangsa kita dikendalikan oleh bangsa lain melalui pengusaan mereka terhadap “budaya kita”. Untuk belajar budaya pun kita harus berguru di Museum Belanda. Dan kita lihat Jepang.. begitu pintar memelihara keseimbangan antara budaya dan tehnologi. Pasukan Samurai dan Huruf Kanji sangat dijunjung tinggi.
      Wakakak..πŸ˜€ Memang rumit mas Roy, karakternya nggak cukup. Thanks banget sudah bersilaturahmi. salam Sahabat!πŸ™‚

      Komentar oleh Mas Tyas — 28 Juli 2009 @ 16:01

  4. memang terkadang bahasa pemersatu (baca; bahasa Indonesia) terkadang menjadi ancaman bagi beberapa bahasa daerah, terutama bahasa daerah yang sudah terlampau tua..
    padahal bila kita kaji lebih mendalam, bahasa daerah lebih kaya dibanding dengan bahasa nasional yang dingin, dan terkesan arogan..
    hidup bahsa ibu..

    Komentar oleh fadillahcinta — 31 Juli 2009 @ 04:04

  5. Bahasa daerah slh satu cermin dari kepribadian budaya indonesia.

    Komentar oleh Aspirasiputih — 7 Agustus 2009 @ 10:14

  6. tapi ya itu bahasa daerah makin kurang di minatiπŸ˜†

    Komentar oleh udienroy — 7 Agustus 2009 @ 15:32

    • Thanks Mas Roy+ aspirasi putih, bahasa memang mencerminkan bangsa dan tugas kita untuk melestarikannya, Salam Sahabat.

      Komentar oleh Mas Tyas — 7 Agustus 2009 @ 23:32


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: