Tunjung Tutur

SBY- Budiono dan Mbah Marijan | 31 Mei 2009

Ketika SBY menentukan kebijakan memilih Budiono sebagai cawapres, serangkaian unjuk rasa pun muncul, mereka mengaku berasal dari pendukung SBY yang kecewa.
Lain halnya dengan kisah Mbah Marijan, ketika Sri Sultan mengeluarkan kebijakan agar warga Merapi mengungsi, maka sebagian warga pun patuh untuk turun gunung, terkecuali Mbah Marijan dan beberapa pengikutnya. Mbah Marijan bukanlah menentang Sultan melainkan sekedar mewujudkan kodratnya sebagai abdi dalem yang bertugas menjaga eksistensi dan kelestarian Gunung Merapi. Tak ada unjuk rasa disini ataupun orasi yang mengganggu aktivitas kehidupan lainnya, melainkan justru Mbah Marijan menjadi sosok yang terkenal bahkan legendaris. Mbah Marijan hanya ingin bekerja dan mengabdi pada kesultanan serta alam semesta yang telah menjadi sahabatnya. Hal ini menimbulkan berbagai respon dari masyarakat. Ada yang memuji sampai dengan menghujat atas langkah-langkah kontroversinya, apalagi dibumbui oleh aroma mistis dan sarat dengan sesaji. Dan lagi- lagi tak ada pembelaan apapun dari beliau. Tak ada pula pantun berbalas, dan Sri Sultan pun tidak mengadakan suatu pemaksaan apapun.
Mbah Marijan dan warga Merapi sangat menghargai konteks kepasrahan pada Ilahi. Dan pemimpin dalam hal ini adalah orang- orang yang ‘kewahyon’, atau yang diberi amanah wahyu oleh Allah, maka ketika amanah wahyu itu tidak bisa dijaga akan terjadi ‘owah gingsir’ atau perubahan atas kehendak Nya. Dan apa yang terjadi ketika kursi kepemimpinan diperebutkan? Dunia mbah Marijan adalah dunia pengabdian, sekalipun jelas bahwa beliau sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan melihat dunia politik kadang kala seperti melihat permainan anak- anak. Ada saatnya mereka rukun menghitung dan bermain kursi sebanyak- banyaknya namun ada saatnya pula kebersamaan itu menjadi sebuah atraksi saling lempar kursi, hingga yang terlempar terpaksa harus menginap di Rumah Sakit Jiwa. Ironis memang, dan sepertinya para politikus kita sekali waktu perlu disempatkan sowan ke Gunung Merapi.


Ditulis dalam Cerita Ringan
Tags:

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: