Tunjung Tutur

Si Cantik Sadikem | 13 Januari 2010

*Aku berhenti mengayuh sepeda onta ku, ketika seseorang perempuan melambaikan tangannya…Cantik semampai, rambut panjang dengan sisipan bunga kantil di atas telinga kirinya..

Aku dari Maospati hendak ke Kincang ketempat saudaraku. Cari utangan beras, ekonomi saat itu lagi sulit. Tak ada uang untuk naik bis, apalagi motor, yach.. Sepeda jadilah, toh nggak jauh..

“Mau nebeng mas..” sapanya menggugah lamunku.

“Monggo- monggo..” reflek aku menjawabnya. Ia pun membonceng dibelakang..

“aku mau ke Jiwan mas.., ” katanya sambil memegang pinggangku, “nggak ada yang marah kan kalo seperti ini.. “

“I.. iya..”, aku terbata. Gendeng! Cah ayu, dari mana petang hari begini, batinku.

Hanya itu, tak ada obrolan lagi. Sepi. Dan aku tak mampu menolak ketika ia merebahkan kepalanya di punggungku. “Walah.. wong mlarat ketiban sampur”, batinku. Aku hanya teringat anak istriku dirumah ketika wangi aroma tubuhnya menggugah birahi lelakiku. Damput, umpatku dalam hati, kenapa otakku merespon negatif?

” Wis mas, aku turun sini saja, matur Nuwun ya..”

“Turun sini? Inikan jembatan Nduk?”

Ia tak menjawab, namun malah menyerahkan selembar uang 10rb-an. Edan, kala itu harga beras masih 50 rupiah per kilo.

“Nggak Nduk, nggak usah, saya..” aku terbata namun tanganku tak kuasa menolak pemberiannya, mungkin karena.. senyumnya.. ya senyumnya, manis sekali, Weleh ngedap- ngedapi..

Dan dalam hitungan detik: Byur..!! Perempuan cantik itu pun melompat dari jembatan, terjun ke sungai..!

Oalah, Sadikem!! Tak mampu aku berbuat apapun kecuali menggenjot sepeda ontaku kencang- kencang.. *

Demikianlah napak tilas kisah hantu Sadikem dari seorang laki- laki ketika itu, 20th silam, legenda hantu yang sangat populer hingga kini di daerah Maospati- Madiun dan sekitarnya. Entah kapan mulainya kisah itu, konon Sadikem adalah seorang pengantin yang tewas tercebur Sungai di Jembatan “buk ireng” desa Jiwan kecamatan Maospati kabupaten Magetan, berbatasan dengan Madiun-
Jawa Timur.

Mau?

About these ads

Ditulis dalam Cerita Ringan
Tags: , ,

16 Komentar »

  1. pertamanyaaaaa

    monggo..

    Komentar oleh udienroy — 13 Januari 2010 @ 07:01

  2. ke duanyaa jugaaaa!

    monggo maning..

    Komentar oleh udienroy — 13 Januari 2010 @ 07:02

  3. terus mas duetnya itu di apakan?

    ntar saya telpon dulu orangnya.. :mrgreen:

    Komentar oleh udienroy — 13 Januari 2010 @ 07:05

  4. wah Rp10.000 kala itu nilainya dah banyak banget mas. dah cukup di maem 1bulan

    iya kali mas, banyak duit juga tuh si cantik..

    Komentar oleh udienroy — 13 Januari 2010 @ 07:06

  5. lha kalau Rp10.000 sekarang mah cuma buat beli rokok doang dan habis 1 hari

    iya mas, malah bisa kurang.. merokoknya mirip kereta api sih..

    Komentar oleh udienroy — 13 Januari 2010 @ 07:08

  6. Banyak hantu2 yang kek begini, ya?. hampir di setiap daerah mempunyainya.

    ya ndan, umumnya Indonesia merupakan peringkat tertinggi pengkoleksi hantu: ada pocong, tuyul, gendruwo, kuntilanak, suster ngesot, dokter ngesot, babi ngepet, trus maneh iku lho: banaspati, kemamang (hantu api), buto ijo, buto coklat, buto orange, plus temannya si cantik: si manis jembatan ancol, pokoknya banyak deh..
    *Salam buat semuanya ya.. jangan gangguan kawan- kawanku ya, kita damai aja dech..* :mrgreen:

    Komentar oleh alamendah — 13 Januari 2010 @ 12:37

  7. Peh..lha ceritane kok meh persis karo aku to yooo… Cuma bedane rodo kwalik… Si Wulansari iku (penghuni jembatan deket rumah), malah lari sambil teriak2 nangis campur ketawa cekikik’an..gara2 pas aku lewat papasan sama dia… Weleh, opo dikiro rupaku luwih nggilani soko dewek’e po piye….diamput, mosok yo parah tenan to aku iki… :-(

    yo sing gedhe sebute wae cak, murih nggak turun ing anak putu, mestine bocah iku kuwatir yen diajak selingkuh :mrgreen:

    Komentar oleh suroblogger — 17 Januari 2010 @ 14:44

  8. untung mas tyas gak diajak njebur ke sngai sekalian. kalau di ajak gimana hayooo? pasti kalau yang ngajak cewek caantik mas tyas mau. makanya kalau meliat cewek harus diliat dulu! kakinya nempel ditanah apa enggak

    betul mas huda, teliti sebelum membeli :mrgreen:
    sukses selalu mas huda, semoga tetap lanjut komunikasi dan persahabatan kita!

    Komentar oleh samsul huda — 17 Januari 2010 @ 21:48

  9. salam ya, buat sadikem…

    sedj

    salam sudah sampaikan, beliau berpesan njenengan disuruh mampir kalo pas travelling ke seputar maospati- madiun :mrgreen:

    Komentar oleh sedjatee — 17 Januari 2010 @ 23:16

  10. pangapunten sedherek… Spengetahuan saya jiwan itu masuk kab. Madiun, batas magetan dg madiun itu jembatan dkt kosala tirta… Mohon maaf jk salah saya memahaminya

    Komentar oleh Gendro Laras — 4 April 2012 @ 15:19

  11. beberapa bulan lalu, aku sempat di datangi sama beliau di kamarku, namun wajahnya sudh tidak cantik tapi sudah menua, ya cuma sekadar “menyemparkan” selendang ijo-nya…namun secara cepat dan hilang…secara tidak bilang apa2 namun yakinku itu dia…

    Komentar oleh Anonymous — 5 Juni 2012 @ 17:37

    • AH KON IKU MODUS BOS.

      Komentar oleh Anonymous — 14 Mei 2013 @ 02:24

  12. Aku takut. wkwkwkwkwk TAEK !!

    Komentar oleh Anonymous — 14 Mei 2013 @ 02:23

    • Ojo ngono,, mas bro,,

      Komentar oleh Anonymous — 16 September 2013 @ 04:37

  13. aku penduduk asli tinggal 100m timur jembatan kincang bukan jiwan, aku rasa cerita sampean itu tidak benar 20 tahun lalu harga beras juga tidak rp 50
    ralatlah cerita anda yang masuk nalar, saya tinggal dan penduduk asli dekat jembatan itu

    Komentar oleh Anonymous — 26 Oktober 2013 @ 12:10

  14. rileks aja mas bro.. sekedar narasi untuk bersenang- senang.. hehe..

    Komentar oleh Tunjung Tutur — 18 Februari 2014 @ 08:37


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: